2 bulan 15 hari tepat terlewati sejak melahirkan anak kedua. Daris nama yang disematkan mas Indra karena teringat teman lamanya asal Aceh yang saat ini entah di mana. Terlewati sudah masa-masa 2 minggu pertama menjadi orang tua 2 anak. Tempo hari, kami berdua sempat nangis bareng saat dua anak kami tertidur lelap. Bukan karena lelah atau cekcok pasutri. Tapi, karena kami terenyuh dengan penerimaan anak pertama kami yang ternyata lebih siap menerima kehadiran adiknya, jauh lebih siap daripada kami berdua. Selalu antusias dan siap membantu apapun yang bisa dia lakukan untuk meringankan beban kedua orang tuanya saat kerepotan, menemani adiknya kapanpun dan bahkan sempat beberapa kali enggan diajak jalan sore bersama Bapaknya dan memilih di rumah saja. Aneh, betapa anak umur 3 tahun 2 bulan bisa berubah sebegitu drastis menjadi sangat ngemong dan blend well quick shifting into a new condition . Sedangkan untuk kami yang hampir usia kepala 3 perubahan itu terasa sulit....
Tulisanku akan dimulai dengan deskripsi singkat suasana saat aku menulis ini. Hujan baru saja berhenti, suara kipas angin di kamar tempat anakku tidur terdengar sampai ruang tengah, suami tertidur lelap sedari tadi. Tinggal aku yang masih saja memandangi gawai dan membuka aplikasi blogger ini tak ayal karena kebosanan dan tak tahu lagi harus mengerjakan apa agar terlelap cepat. Satu tahun berlalu sudah sejak kali terakhir aku menulis dan menghias laman blogku ini. Terakhir di bulan Februari 2022 menulis tentang hal receh ngidam di usia kandungan 4 bulanku, sama sekali enggak berbobot. Tapi patut diapresiasi karena ternyata masih 'setidaknya' menyempatkan diri menulis saat ngidam dan kehuyungan seharian. Saat sendirian terbangun di waktu malam, seringkali banyak pikiran dan perasaan bertengger di dada. Hingga beberapa kenangan yang tak terasa berlalu begitu cepat. Aku yang saat ini sudah bersuami dan memiliki bayi, rasa rasanya baru kemarin berlelah lelah ria mencari pekerjaan b...
Baru aja rampung ngelipat baju-baju yang rasanya gak ada abisnya. Padahal manusia di rumah ini cuma berempat itupun dua orangnya masih bayi balita, tapi rasanya kayak manusia seRW aku lipetin semua bajunya. Kemeng kebasss alhamdulillah! Takbeer.. Awalnya begitu. Tapi, entah sejak kapan keterbiasaan itu mulai muncul. Rutinitas ngelipet pakaian malam hari jadi terasa normal dan cukup enjoyable ( enjoy ceunahh). Mungkin ini yang dinamakan keterbiasaan ba’da keterpaksaan ahahaha. Ada satu hal yang aku sukain dari rutinitas lipat-lipat klub ini, refleksi diri. Seriuss refleksi! Ternyata ketenangan itu bukan hanya dari ibadah, tapi juga bisa datang dari kegiatan rutin IRT sesederhana lipet baju. Tempo hari, aku sempet lihat postingan tentang betapa beruntungnya orang-orang yang masih punya anak kecil di rumahnya. Capek banget memang, menguras tenaga, dan rumah nggak kenal kata ‘rapi beneran’. Masa kita punya anak yang sedang dibesarkan, manusia cenderung fokus dan tahu jel...
Komentar
Posting Komentar